AFTECH Rilis White Paper Terbaru: Kolaborasi Bank dan Fintech Lending Bisa Percepat Pertumbuhan Ekonomi
6 mins read

AFTECH Rilis White Paper Terbaru: Kolaborasi Bank dan Fintech Lending Bisa Percepat Pertumbuhan Ekonomi

Bayangkan kalau jutaan orang Indonesia, terutama pelaku UMKM, bisa lebih mudah dapat pinjaman untuk kembangkan usaha. Bukan mimpi lagi, tapi ini yang lagi didorong keras oleh industri fintech. Baru-baru ini, Asosiasi Fintech Indonesia (AFTECH) bersama Mandala Consulting meluncurkan white paper AFTECH yang bikin heboh: berjudul Mendorong Perluasan Akses Kredit melalui Kolaborasi Bertanggung Jawab antara Bank dan Pindar.

White paper AFTECH ini datang di saat yang tepat. Ekonomi Indonesia lagi butuh dorongan ekstra untuk capai target pertumbuhan tinggi, tapi akses kredit formal masih jadi batu sandungan besar. Banyak masyarakat underbanked yang kesulitan dapat pembiayaan, padahal mereka punya potensi besar. Nah, dokumen ini menyoroti solusi lewat kerjasama antara bank konvensional dan platform pinjaman daring (fintech lending atau Pindar). Menarik, kan? Yuk, kita bahas lebih dalam apa isi white paper AFTECH ini dan kenapa ini bisa jadi game changer untuk ekonomi kita.

Apa Itu AFTECH dan Kenapa White Paper Ini Penting?

AFTECH adalah asosiasi resmi yang mewadahi pelaku fintech di Indonesia. Sudah 10 tahun lebih mereka jadi jembatan antara inovasi digital dan regulasi, supaya industri keuangan digital tumbuh sehat dan bermanfaat buat semua orang.

White paper AFTECH terbaru ini bukan sekadar laporan biasa. Diluncurkan pada Februari 2026 di Jakarta, dokumen ini hasil diskusi panjang dengan regulator seperti OJK, bank-bank besar, ekonom, sampai asosiasi industri. Acaranya sendiri jadi forum dialog seru, bahas bagaimana kolaborasi bisa bantu inklusi keuangan dan dorong pertumbuhan ekonomi.

Kenapa penting? Karena akses kredit yang luas itu kunci utama buat ekonomi bergerak. Kalau UMKM bisa pinjam modal mudah, usaha berkembang, lapangan kerja bertambah, dan roda ekonomi muter lebih kencang. White paper AFTECH ini seperti peta jalan buat mewujudkan itu lewat sinergi bank dan fintech.

Tantangan Akses Kredit di Indonesia: Masih Banyak yang Tertinggal

Mari kita lihat faktanya dulu. Meskipun penetrasi internet sudah capai 75%, akses kredit formal masih stagnan. Data World Bank bilang, sekitar 48% penduduk dewasa Indonesia masih underbanked. Artinya, mereka punya akses terbatas ke layanan keuangan formal.

Menurut Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) OJK tahun 2025, inklusi keuangan perbankan baru 70%. Sisanya, 30% orang dewasa masih financially excluded – belum punya akses sama sekali ke kredit formal.

Rasio kredit terhadap PDB kita juga rendah banget: cuma 36,4% di 2024–2025. Bandingkan dengan negara berpendapatan menengah atas yang rata-rata 74%, atau menengah bawah 62%. Ini artinya, potensi ekonomi kita belum maksimal karena banyak yang kekurangan modal.

UMKM jadi korban utama. Mereka penyumbang besar PDB, tapi sering ditolak pinjaman bank karena syarat ketat atau kurangnya rekam jejak kredit. Di sinilah fintech lending masuk sebagai penyelamat, tapi kalau sendirian, skalanya terbatas.

Isi Utama White Paper AFTECH: Kolaborasi Jadi Kunci

White paper AFTECH ini tegas bilang: perluasan akses kredit nggak bisa bergantung satu kanal saja. Harus ada kolaborasi bertanggung jawab antara bank dan Pindar.

Fintech lending tumbuh pesat, dengan pertumbuhan tahunan 34% dari 2019 sampai 2024. Mereka punya kelebihan: proses cepat, underwriting digital, dan pakai data alternatif untuk credit scoring. Cocok banget buat segmen underbanked yang bank sulit jangkau.

Sementara bank tetap jadi penyedia kredit utama dengan dana besar dan infrastruktur kuat. Trennya sudah kelihatan: pendanaan dari bank ke Pindar melonjak dari Rp4,5 triliun di 2021 jadi Rp46,1 triliun di 2024. Ini bukti kepercayaan bank ke model fintech semakin tinggi.

Firlie Ganinduto, Sekjen AFTECH, bilang: “Kolaborasi yang bertanggung jawab antara perbankan dan pindar menjadi kunci penting untuk membuka pintu perluasan pembiayaan dan menjangkau segmen masyarakat yang selama ini belum terlayani secara optimal.”

Intinya, bank dan fintech saling melengkapi. Bank kasih dana murah, fintech kasih teknologi dan akses ke nasabah baru. Hasilnya? Akses kredit lebih luas, risiko terkelola, dan ekonomi lebih inklusif.

Rekomendasi Praktis dari White Paper AFTECH

Dokumen ini nggak cuma soroti masalah, tapi kasih solusi konkret. Beberapa rekomendasi utama:

  • Bangun kerangka kolaborasi terstruktur dan jangka panjang antara bank dan Pindar.
  • Kuatkan tata kelola, manajemen risiko, dan perlindungan konsumen di kedua belah pihak.
  • Optimalkan berbagai kanal pembiayaan untuk dukung UMKM produktif.
  • Dorong inisiatif inklusif yang tetap jaga stabilitas sistem keuangan.

Jasmi dari OJK menyambut baik: kolaborasi harus perkuat kemanfaatan dan lindungi konsumen, supaya pembiayaan alternatif lebih aman buat UMKM.

Rosy Wediawaty dari Bappenas juga tambah: perluasan akses ini strategis buat pembangunan nasional yang merata.

Manggala Putra Santosa dari Mandala Consulting tekankan, rasio kredit yang lebih tinggi bakal boost konsumsi, investasi, dan produktivitas.

Dampak Nyata untuk UMKM dan Pertumbuhan Ekonomi

Kalau rekomendasi white paper AFTECH ini dijalankan, apa yang bakal terjadi?

Pertama, UMKM bakal lebih gampang dapat modal. Mereka bisa ekspansi, rekrut karyawan baru, dan kontribusi ke PDB makin besar.

Kedua, inklusi keuangan naik, kesenjangan ekonomi berkurang. Segmen underbanked – seperti pedagang kecil atau wirausaha di daerah – akhirnya punya kesempatan sama.

Ketiga, pertumbuhan ekonomi bisa lebih kencang. Target 8% yang sering dibahas pemerintah jadi lebih realistis kalau rasio kredit/PDB naik signifikan.

Contoh nyata sudah ada: banyak bank yang channeling dana ke fintech lending, dan hasilnya penyaluran kredit ke sektor produktif meningkat. Kalau ini diperluas dengan regulasi pendukung, efeknya bakal luar biasa.

Tanggapan Stakeholder: Semua Dukung Kolaborasi

Peluncuran white paper AFTECH ini dapat respons positif. OJK bilang siap dukung selama tata kelola kuat. Bappenas lihat ini sebagai strategi pembangunan inklusif.

Pelaku industri seperti Nucky Poedjiardjo dari Easycash bilang, banyak platform Pindar sudah siap ikuti standar bank. Ini saatnya tingkatkan skala lewat kerjas Rama.

Singkatnya, semua setuju: kolaborasi bukan pilihan, tapi keharusan.

White paper AFTECH ini seperti alarm buat kita semua. Indonesia punya potensi ekonomi besar, tapi tanpa akses kredit yang merata, sulit capai pertumbuhan maksimal. Lewat kolaborasi bank dan fintech yang bertanggung jawab, kita bisa buka pintu lebih lebar buat UMKM dan masyarakat underbanked.

Ini bukan akhir, tapi awal dari perubahan besar. Kalau kamu pelaku usaha atau tertarik fintech, pantau terus perkembangan ini. Siapa tahu, kesempatan besar sedang menanti.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *