Banjir di Sumatera Tidak Bisa Disederhanakan Hanya karena Deforestasi, Kata Kemenhut
3 mins read

Banjir di Sumatera Tidak Bisa Disederhanakan Hanya karena Deforestasi, Kata Kemenhut

Anda sering mendengar banjir besar di Sumatera disebabkan deforestasi besar-besaran. Namun, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (Kemenhut) menegaskan banjir di Sumatera tidak bisa disederhanakan hanya karena deforestasi. Banjir merupakan hasil interaksi kompleks antara faktor alam, iklim ekstrem, perubahan penggunaan lahan, drainase buruk, dan aktivitas manusia. Di Riau, Jambi, Sumatera Barat, dan Sumatera Selatan, banjir semakin sering dan parah sejak 2020. Kemenhut menekankan perlu pendekatan holistik, bukan hanya menyalahkan deforestasi. Artikel ini mengupas pernyataan resmi Kemenhut, peran deforestasi, faktor lain yang dominan, data terkini, kasus studi, serta solusi berkelanjutan untuk mengurangi risiko banjir di Sumatera.

Peran Deforestasi dalam Meningkatkan Risiko Banjir

Deforestasi tetap berkontribusi besar. Anda lihat Sumatera kehilangan 1,2 juta hektar hutan primer antara 2001-2024. Hutan berfungsi sebagai spons alam yang menyerap air hujan dan melepaskannya secara perlahan. Hilangnya tutupan hutan menyebabkan limpasan air permukaan meningkat hingga 40%. Di Riau, konversi hutan menjadi perkebunan sawit mempercepat erosi dan sedimentasi sungai. Namun, Kemenhut menekankan deforestasi ilegal dan legal sama-sama berdampak. Perusahaan besar yang patuh sertifikasi RSPO cenderung memiliki praktik drainase lebih baik.

Faktor Iklim dan Cuaca Ekstrem

Perubahan iklim menjadi pendorong utama banjir di Sumatera. Anda catat fenomena La NiƱa 2024-2025 meningkatkan curah hujan bulanan hingga 300-400 mm di Sumatera Barat. Suhu permukaan laut yang lebih hangat di Samudra Hindia memperkuat monsun. BMKG mencatat frekuensi hari hujan ekstrem (>100 mm/hari) naik 25% dalam 10 tahun terakhir. Kemenhut menyoroti bahwa tanpa adaptasi infrastruktur, deforestasi hanya memperburuk dampak iklim ini.

Topografi, Drainase, dan Urbanisasi

Topografi Sumatera yang datar di pesisir timur memperlambat aliran air. Anda lihat sistem drainase di kota seperti Pekanbaru dan Palembang tidak mampu menampung debit air hujan. Urbanisasi cepat mengubah lahan resapan menjadi beton. Di Jambi, konversi rawa gambut menjadi permukiman memperburuk banjir. Kemenhut merekomendasikan restorasi rawa gambut dan pembuatan embung kecil sebagai solusi jangka pendek.

Data Deforestasi dan Banjir Sumatera 2020-2026

Deforestasi Sumatera mencapai 2,8 juta hektar dalam 5 tahun terakhir. Anda bandingkan dengan kejadian banjir: 2022 banjir Riau merendam 150 ribu hektar lahan, 2024 banjir Jambi menyebabkan 12 korban jiwa. Data KLHK menunjukkan provinsi dengan deforestasi tertinggi (Riau, Sumsel) juga mengalami banjir paling sering. Namun, Sumatera Barat dengan deforestasi lebih rendah tetap rawan karena topografi pegunungan dan curah hujan tinggi.

Kasus Studi: Banjir Riau 2025 dan Jambi 2024

Banjir Riau Januari 2025 merendam 12 kabupaten dengan debit Sungai Siak naik 300%. Anda lihat penyebab utama adalah hujan 250 mm dalam 3 hari plus drainase sawit yang buruk. Di Jambi 2024, banjir merendam 45 desa meski deforestasi sudah menurun. Faktor utama adalah sedimentasi sungai akibat tambang ilegal. Kedua kasus ini membuktikan banjir tidak bisa disederhanakan hanya karena deforestasi.

Solusi Komprehensif yang Diusulkan Kemenhut

Kemenhut mendorong restorasi hutan seluas 1 juta hektar di Sumatera hingga 2030. Anda bisa dukung program rehabilitasi DAS terintegrasi. Selain itu, perkuat tata kelola air di perkebunan sawit melalui sertifikasi berkelanjutan. Pemerintah daerah wajib buat rencana tata ruang yang mempertimbangkan risiko banjir. Edukasi masyarakat tentang konservasi air dan pelaporan dini juga penting. Pendekatan ini memerlukan sinergi lintas kementerian dan pemerintah daerah.

Kesimpulan

Banjir di Sumatera tidak bisa disederhanakan hanya sebagai akibat deforestasi. Kemenhut menekankan perlunya memahami faktor iklim, topografi, drainase, dan urbanisasi secara bersama. Anda bisa berkontribusi dengan mendukung restorasi hutan, memilih produk sawit berkelanjutan, dan meningkatkan kesadaran lingkungan. Mari dorong kebijakan holistik untuk mengurangi risiko banjir di Sumatera.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *