Cara Agar Gen Z Senang Belajar Sains: Inspirasi dari Pasangan Peraih Nobel
Gen Z menghadapi tantangan unik saat belajar sains. Mereka tumbuh sebagai digital native dengan akses teknologi tinggi, namun sering merasa bosan dengan konsep abstrak atau kurang relevan dengan kehidupan sehari-hari. Akibatnya, minat mereka terhadap STEM (sains, teknologi, rekayasa, matematika) menurun meski banyak yang menyatakan ketertarikan awal. Data global menunjukkan sekitar 75% Gen Z tertarik setidaknya satu bidang STEM, tetapi kurang dari sepertiga mempertimbangkannya sebagai karir jangka panjang.
Prof. Morten Meldal, peraih Nobel Kimia 2022 bersama Carolyn Bertozzi dan K. Barry Sharpless atas pengembangan click chemistry serta bioorthogonal chemistry, dan istrinya Phaedria Marie St Hilaire PhD, pakar kepemimpinan serta Global Ambassador Global Girls Foundation/Plan International, membagikan solusi praktis. Dalam kuliah umum “STEMpowerment for All: Breaking Barriers, Building Futures” di Universitas YARSI Jakarta pada 30 Januari 2026, mereka menekankan pengalaman nyata, rasa ingin tahu, dan ketahanan mental.
Artikel ini menyajikan panduan langkah demi langkah agar Gen Z senang belajar sains. Tips ini menggabungkan wawasan ilmiah Meldal dengan pendekatan kepemimpinan St Hilaire, disertai contoh aplikatif dan manfaat untuk Gen Z yang menghargai tujuan sosial serta keseimbangan hidup. Anda bisa langsung terapkan di rumah, sekolah, atau komunitas.
Langkah 1: Sediakan Pengalaman Nyata di Alam untuk Membangun Koneksi Emosional
Meldal menekankan pentingnya pengalaman langsung di alam. Anak muda tidak bisa memahami keajaiban alam hanya lewat layar HP atau laptop. Observasi gravitasi, cahaya, biologi, dan interaksi ekosistem menciptakan rasa kagum alami.
Anda mulai dengan aktivitas sederhana. Ajak Gen Z berjalan-jalan di taman, hutan kota, atau pantai. Amati bagaimana pohon “berkomunikasi” melalui akar atau serangga memilih bunga tertentu, seperti pengalaman masa kecil Meldal di kebun kakek-neneknya. Diskusikan fenomena sehari-hari seperti mengapa kembang api meledak (kimia) atau bagaimana air mengalir (fisika).
Aktivitas ini efektif karena membuat sains konkret dan menyenangkan. Gen Z yang terbiasa scroll konten cepat mendapatkan jeda refleksi, mengurangi kecemasan, dan meningkatkan retensi pengetahuan. Penelitian menunjukkan pembelajaran berbasis pengalaman meningkatkan engagement hingga 20-30% dibanding metode konvensional. Hasilnya, mereka mulai merasa senang belajar sains karena melihat kaitannya langsung dengan dunia nyata.
Langkah 2: Dorong Rasa Ingin Tahu dengan Pertanyaan Terbuka dan Proses Sistematis
Setelah observasi alam, ajukan pertanyaan yang memicu curiosity. Phaedria menyarankan orangtua bertanya saat di alam tanpa perlu tahu jawaban semua. Anak akan belajar bertanya sendiri dan mengejar rasa ingin tahu.
Meldal menambahkan: pandu pertanyaan dari A sampai Z hingga menemukan jawaban atau solusi. Contohnya, dari “Mengapa daun hijau?” lanjut ke fotosintesis, eksperimen sederhana dengan daun dan cahaya, lalu aplikasi di pertanian berkelanjutan.
Proses ini mengubah belajar pasif menjadi aktif. Gen Z menghargai autonomy; mereka merasa empowered saat memimpin penyelidikan sendiri. Ini juga mengembangkan skill problem-solving krusial untuk karir STEM modern, seperti di bidang click chemistry yang memungkinkan sintesis molekul cepat untuk obat-obatan dan material baru.
Langkah 3: Seimbangkan Teknologi dengan Pembelajaran Langsung
Gen Z mahir teknologi, tapi Meldal ingatkan jangan biarkan gadget menggantikan pengalaman nyata. Gunakan HP sebagai pelengkap: scan QR code tanaman, akses simulasi 3D, atau video eksperimen setelah observasi lapangan.
Phuedria menyarankan manfaatkan sumber belajar online setiap hari, tapi kombinasikan dengan komunitas nyata. Contoh: setelah hiking, diskusikan temuan di grup WhatsApp orangtua-anak, lalu verifikasi dengan app identifikasi spesies atau simulasi kimia.
Keseimbangan ini mencegah burnout digital dan membuat Gen Z senang belajar sains karena teknologi menjadi alat pemberdaya, bukan pengganti. Mereka belajar filter informasi berkualitas, skill penting di era AI.
Langkah 4: Bangun Ketahanan Mental dan Jiwa Kepemimpinan
Gen Z punya passion tinggi, keberanian, dan konektivitas, tapi mudah merasa tidak cukup atau demotivasi. Phaedria tekankan ingatkan diri bahwa pikiran negatif salah. Fokus pada tujuan jangka panjang: masa depan lebih baik untuk diri sendiri dan dunia.
Dorong mereka tetap terhubung, ungkapkan pikiran, dan berkontribusi solusi masalah global seperti perubahan iklim atau kesehatan. Kepemimpinan diri muncul saat Gen Z melihat sains sebagai alat menciptakan dampak positif, sesuai nilai sustainability yang diminati generasi ini di Indonesia dan global.
Praktiknya: buat jurnal refleksi setelah sesi belajar, rayakan small wins, atau ikut proyek komunitas seperti eksperimen air bersih. Resilience ini membuat mereka bertahan dan semakin menikmati proses belajar sains.
Langkah 5: Cari Inspirasi dari Tokoh Sejarah dan Ilmuwan Kontemporer
Meldal sarankan pelajari perjalanan tokoh sains: perilaku heroik, etis, atau resilient mereka. Cerita Marie Curie, Einstein, atau peraih Nobel terkini tunjukkan kegagalan sebagai bagian perjalanan.
Hubungkan dengan click chemistry Meldal: reaksi sederhana yang merevolusi farmasi dan material, membuktikan inovasi berasal dari rasa ingin tahu sederhana. Gen Z terinspirasi karena melihat sains bukan bakat langka, melainkan hasil ketekunan dan kolaborasi.
Buat aktivitas: baca biografi singkat, diskusikan nilai kepemimpinan, lalu aplikasikan ke proyek pribadi. Ini menambah motivasi intrinsik.
Langkah 6: Mulai Sejak Dini dan Libatkan Komunitas Orangtua serta Sekolah
Tidak ada usia terlalu dini untuk STEM. Phaedria beri contoh anak mereka dapat peralatan kimia di usia 3 tahun. Rekomendasikan kemauan politik agar orangtua fasilitasi pengajaran STEM.
Bentuk komunitas: satu orangtua pimpin observasi alam mingguan, bagikan sumber internet, atau kolaborasi sekolah dengan lab sederhana. Di Indonesia, manfaatkan program pemerintah STEM atau komunitas lokal.
Gen Z senang belajar sains ketika lingkungan mendukung. Komunitas mengurangi beban individu dan ciptakan rasa belonging.
Langkah 7: Terapkan dalam Pendidikan Sehari-hari dan Evaluasi Kemajuan
Integrasikan ke rutinitas: eksperimen dapur (kimia), coding sederhana dengan Python untuk simulasi fisika, atau proyek sustainability seperti urban farming. Gunakan gamification atau kompetisi ramah untuk elemen fun.
Evaluasi secara berkala: tanya apa yang disukai, sesuaikan pendekatan, rayakan pencapaian. Ini memastikan proses tetap enjoyable dan adaptif.
Manfaat Jangka Panjang dan Kesimpulan
Menerapkan langkah-langkah ini membuat Gen Z senang belajar sains sekaligus membangun karir relevan di era hijau dan teknologi. Mereka mengembangkan curiosity abadi, resilience, leadership, serta kontribusi nyata ke masyarakat.
Pasangan Meldal dan St Hilaire membuktikan kombinasi ilmu pengetahuan dan kepemimpinan menghasilkan generasi inovator. Mulai hari ini dengan satu aktivitas alam sederhana. Bagikan pengalaman Anda di komunitas pendidikan, ikuti webinar STEM, atau dukung kebijakan pendidikan sains di Indonesia. Gen Z senang belajar sains bukan mimpiāia menjadi kenyataan melalui pendekatan holistik ini.
Gen Z senang belajar sains membutuhkan perpaduan pengalaman nyata, curiosity terpandu, teknologi seimbang, resilience, inspirasi, komunitas, dan aplikasi harian. Tips dari peraih Nobel ini memberikan fondasi kuat untuk masa depan cerah.
