Kurikulum Merdeka 2026: Kontroversi Penghapusan Mapel Sejarah Bikin Generasi Muda Lupa Akar Bangsa?
4 mins read

Kurikulum Merdeka 2026: Kontroversi Penghapusan Mapel Sejarah Bikin Generasi Muda Lupa Akar Bangsa?

Kurikulum Merdeka 2026 menandai era baru perubahan pendidikan Indonesia, dengan penetapan sebagai kurikulum nasional permanen melalui Permendikdasmen Nomor 13 Tahun 2025. Reformasi ini menekankan fleksibilitas pembelajaran, penguatan keterampilan, dan kembalinya sistem penjurusan di SMA mulai Februari 2026. Namun, kontroversi kurikulum baru muncul terkait pengurangan jam mata pelajaran sejarah, yang dikhawatirkan membuat generasi muda lupa akar bangsa. Artikel ini membahas detail perubahan, pro-kontra, serta dampak penghapusan mata pelajaran bagi pendidikan nasional, sambil memberikan tips belajar mandiri untuk orang tua dan guru.

Apa Itu Kurikulum Merdeka 2026?

Kurikulum Merdeka 2026 bukan lagi uji coba, melainkan kebijakan permanen yang diterapkan secara nasional. Berdasarkan evaluasi sejak 2021, kurikulum ini memberi guru kebebasan merancang pembelajaran berbasis proyek dan kompetensi siswa. Perubahan utama mencakup integrasi teknologi seperti coding dan AI, serta renovasi 60.000 sekolah hingga akhir 2026 untuk mendukung infrastruktur. Hal ini bertujuan meningkatkan kualitas pendidikan, terutama di daerah 3T, dengan masa transisi hingga 2027-2028.

Reformasi sekolah 2026 juga menghidupkan kembali penjurusan IPA, IPS, dan Bahasa di SMA, setelah sempat dihapus pada 2024/2025. Guru kini wajib menyesuaikan perencanaan, pelaksanaan, dan asesmen sesuai prinsip mendalam. Meski demikian, adaptasi ini menuntut resiliensi guru menghadapi perubahan berulang.

Perubahan Pendidikan Indonesia di 2026

Perubahan pendidikan Indonesia melalui Kurikulum Merdeka 2026 fokus pada inklusivitas dan pemerataan. Siswa mendapat ruang eksplorasi lebih luas, dengan pembelajaran adaptif yang menyesuaikan kebutuhan lokal. Misalnya, proyek penguatan profil pelajar Pancasila menjadi inti, menggantikan pendekatan hafalan tradisional. Pemerintah juga pacu renovasi infrastruktur, menargetkan 300.000 sekolah selesai dalam empat tahun.

Namun, transisi ini bukan tanpa tantangan. Guru perlu melek teknologi untuk implementasi efektif, sementara sekolah di daerah tertinggal mendapat prioritas. Secara keseluruhan, reformasi ini diharapkan menciptakan siswa mandiri dan kompetitif secara global, meski evaluasi berkelanjutan diperlukan untuk mengatasi ketimpangan.

Kontroversi Kurikulum Baru: Pengurangan Materi Sejarah

Kontroversi kurikulum baru meledak sejak awal Kurikulum Merdeka, terutama soal mata pelajaran sejarah. Meski Menteri Nadiem Makarim membantah penghapusan total pada 2020, kenyataannya jam pelajaran sejarah di SMA berkurang menjadi enam jam seminggu, dengan integrasi ke IPS di kelas X. Banyak materi sejarah dunia, seperti konflik global, hilang dari kurikulum, memicu protes dari kalangan pendidik dan sejarawan.

Pada 2024, kajian akademik menyoroti kontradiksi ini, di mana sejarah peminatan global dihilangkan meski Indonesia butuh wawasan internasional. Di 2026, dengan kurikulum permanen, kekhawatiran tetap: apakah pengurangan ini sengaja menyederhanakan kurikulum, atau justru melemahkan identitas nasional? Opini publik terbelah, dengan sebagian melihat ini sebagai langkah progresif, sementara yang lain menilai sebagai pengabaian akar bangsa.

Polemik Penghapusan Mata Pelajaran Sejarah, Ini Saran Dari KPAI …

Dampak Penghapusan Mata Pelajaran pada Generasi Muda

Dampak penghapusan mata pelajaran sejarah, meski bukan total, berpotensi membuat generasi muda lupa akar bangsa. Tanpa pemahaman mendalam tentang perjuangan kemerdekaan atau konflik historis, siswa rentan kehilangan rasa nasionalisme. Kajian menunjukkan, pengurangan materi ini kontradiktif dengan visi Indonesia Emas 2045, yang menekankan identitas kuat.

Di sisi pro, kurikulum baru membebaskan siswa dari beban hafalan, memungkinkan fokus pada keterampilan abad 21 seperti critical thinking. Kontra: hilangnya topik sejarah dunia membuat pendidikan kurang holistik, terutama bagi anak miskin di daerah terpencil. Orang tua dan guru skeptis terhadap kebijakan pemerintah ini, khawatir reformasi sekolah 2026 lebih prioritas infrastruktur daripada konten esensial.

Tips Belajar Mandiri untuk Mengatasi Dampak

Tips belajar mandiri menjadi solusi praktis bagi orang tua dan guru menghadapi dampak penghapusan mata pelajaran. Pertama, integrasikan sejarah ke rutinitas harian melalui buku cerita nasional atau kunjungan museum virtual. Kedua, gunakan platform online seperti YouTube atau aplikasi edukasi untuk modul sejarah mandiri, sesuaikan dengan usia anak.

Ketiga, dorong diskusi keluarga tentang peristiwa historis, seperti Hari Kemerdekaan, untuk bangun rasa bangga. Keempat, kolaborasi dengan komunitas sekolah untuk proyek ekstrakurikuler sejarah. Terakhir, pantau perkembangan anak secara rutin, gabungkan dengan teknologi AI untuk pembelajaran personal. Cara ini membantu siswa tetap terhubung dengan akar bangsa meski kurikulum berubah.

Tips Parenting Anak, Memahami Pentingnya Belajar Mandiri dan …

Kurikulum Merdeka 2026 menjanjikan transformasi positif, tapi kontroversi pengurangan sejarah mengingatkan pentingnya keseimbangan antara inovasi dan pelestarian identitas. Orang tua dan guru berperan kunci memastikan generasi muda tak lupa akar bangsa melalui pendekatan mandiri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *